Archive

Archive for the ‘Mutiara’ Category

3 Idiots

July 6, 2010 1 comment

Film India yang satu ini berbeda dengan film india pada umumnya…yang jelas keren habis..menceritakan kisah 3 sahabat (rancho,farhan dan raju)..berikut sedikit kisah ceritanya penulis ambil di http://kickandy.com/corner/2010/03/08/1842/21/1/5/3-Idiots

Air mata saya tak terbendung lagi. Adegan itu sungguh menyentuh dan menggetarkan hati. Tak terbayangkan sebelumnya bahwa ayah Farhan bisa berubah drastis dan menyetujui pilihan anaknya untuk menjadi fotografer.

Sebelumnya, ayah Farhan begitu bersikeras agar anaknya menjadi insinyur. Semua daya dan upaya seorang ayah dia kerahkan agar sang anak bisa sukses menjadi insinyur. “Saya hanya mampu membeli satu alat pendingin di rumah ini. Dan itu saya pasang di kamar Farhan agar dia bisa belajar dengan baik. Agar dia kelak menjadi insinyur,” ujar ayah Farhan yang marah ketika Rancho, sahabat Farhan, nyeletuk bahwa Farhan memiliki bakat yang luar biasa dalam urusan memotret.

Ayah Farhan marah pada Rancho yang dianggapnya sudah meracuni pikiran Farhan dengan pilihan lain di uar keinginan ayahnya agar Farhan menjadi insinyur. Bahkan, pada saat berhadapan dengan Farhan, ayahnya tak henti-henti menjejali pikiran Farhan akan betapa sukses hidupnya kelak jika dia menjadi insnyur.

Karena itu, ketika Farhan memohon agar ayahnya mengijinkan dia untuk tidak mengikuti keinginan ayahnya untuk menjadi insiyur, dan memilih mengikuti kata hatinya untuk menjadi seorang fotografer, meledaklah amarah sang ayah. “Kalau kamu menjadi insinyur, kamu akan dapat memiliki mobil bagus, rumah bagus, dan gaji besar. Hidupmu akan bahagia,” ujar sang ayah mencoba meyakinkan Farhan. Tetapi, nun jauh di lubuk hatinya, ternyata Farhan tidak bahagia menjalani kuliahnya di jurusan teknik. Sejak lama dia jatuh cinta pada dunia fotografi. Namun minatnya itu dipendamnya dalam-dalam, kalah oleh keinginannya untuk berbakti pada orangtuanya yang berkehendak lain.

Bahkan keinginannya untuk melamar kerja sebagai asisten seorang fotografer profesional ternama, terpaksa disimpannya dalam-dalam. Surat lamaran yang sudah ditulisnya, tak pernah berani dikirimkan ke alamat sang fotografer.

Sampai kemudian Rancho, sahabatnya, menemukan surat itu tersimpan di dalam ransel Farhan. “Kamu harus berani mengirimkannya. Kamu punya bakat memotret. Ikuti kata hatimu,” ujar Rancho. Tapi, Farhan tak punya nyali untuk melakukannya. Dia anak baik yang taat pada orangtua. Dia ingin membahagiakan orangtuanya walau hatinya menderita. Nun jauh di dalam hatinya, Farhan iri melihat Rancho selalu mendapat nilai tinggi untuk semua mata pelajaran teknik di kampusnya. Rancho memang memperlihatkan betapa dia sangat meminati dan menikmati pelajaran-pelajaran teknik. Keinginannya untuk terus menekuni dunia teknik sangat kuat. Itu bisa dilihat dari jawaban-jawabannya saat ditanya dosen dan juga kemampuannya memperbaiki helikopter mini berkamera yang sebelumnya gagal diselesaikan oleh seorang mahasiswa yang akhirnya bunuh diri.

“Berbahagialah mereka yang bekerja di bidang yang dia sukai. Sebab dia tidak merasa sedang bekerja, tetapi sedang bermain-main dan dibayar,” ujar Rancho. Sampai pada satu titik, Ranco berhasil meyakinkan Farhan untuk berterus terang pada ayahnya betapa hatinya lebih ingin menjadi seorang fotografer ketimbang insinyur. Maka Farhan lalu menghadap sang ayah.

“Kamu akan mendapat uang sedikit. Rumahmu sempit dan mobilmu kecil,” ujar sang ayah mengomentari niat Farhan untuk menjadi mat kodak profesional. Farhan lalu berlutut dan membuka dompetnya. Di dompet itu terselip foto ayah dan ibu Farhan. “Rancho meminta aku untuk memajang foto ini di dompet, dan melihatnya sebelum aku memutuskan untuk bunuh diri,” ujar Farhan. Ayah Farhan tercenung sejenak. Pandangannya nanar. Hatinya bergejolak.

Bukan rahasia bahwa di India banyak anak muda yang bunuh diri akibat tekanan di dalam keluarga dan di kampus. Banyak orangtua yang menginginkan anaknya menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Bukan apa yang diinginkan sang anak. Sementara kampus hanya menekankan  pada keberhasilan menggapai nilai akademis yang tinggi dan bukan pada kreativitas. Akibatnya, banyak anak muda memilih jalan singkat: bunuh diri.

Hati ayah Farhan terguncang. Selama ini dia sudah mengumpulkan uang yang cukup beser untuk membeli sebuah laptop guna menunjang keberhasilan Farhan sebagai calon insinyur. Terutama menghadapi saat-saat rekrutmen pegawai yang dilakukan sebuah perusahaan besar di kampus Farhan. Sekarang, di hadapannya, sang anak berlutut dan meminta agar dia mengijinkan anaknya untuk menjadi seorang fotografer.

Adegan dalam film 3 Idiots itu menguras airmata saya. Apalagi pada saat-saat di mana ayah Farhan bangkit dari duduknya, menuju ke meja dan mengusap-usap laptop yang tergeletak di atas meja. Dia lalu menyebut harga laptop yang dibelinya dengan susah payah itu.  Setelah terdiam sesaat,  dia bergumam. “Berapa harga sebuah kamera? “  Seakan tak membutuhkan jawaban, sang ayah melanjutkan, “Jual laptop ini, uangnya belikan kamera. Kalau kurang, bilang ayah.”

Tak kuasa menahan haru, Farhan memeluk ayahnya. “Jadilah apa yang kamu inginkan. Bukan yang ayah inginkan,” ujar sang ayah dengan suara bergetar. Sang ibu yang berdiri tak jauh dari mereka, tak kuasa membendung tangis bahagia.

Film 3 Idiots memang sarat dengan pesan. Salah satunya adalah pesan kepada para orangtua agar tidak memaksakan keinginan pada anak-anak mereka. Sebab sampai saat ini masih banyak orangtua yang ingin anak-anaknya menjadi sebagaimana yang mereka inginkan. Bukan sesuai keinginan sang anak. Sebaliknya, film ini juga mengajarkan kepada para anak muda untuk mencari dan mengejar “lentera Jiwa” mereka. Passion mereka. “Berbahagialah mereka yang mengerjakan pekerjaan yang sesuai dengan kata hati mereka. Sesuai keinginan mereka. Sebab mereka tidak merasa bekerja, tetapi bermain-main dan untuk itu mereka dibayar.”

Dalam film itu, Farhan beruntung memiliki orangtua yang akhirnya menyadari bahwa ukuran kebahagiaan bukan melulu mobil bagus dan rumah mewah. Banyak orang yang memiliki jabatan bagus dengan gaji besar tetapi tidak bahagia.

Air mata saya belum lagi kering ketika film usai. Saya masih membayangkan berapa banyak anak-anak muda yang saat ini masih terjebak dalam situasi seperti yang dirasakan Farhan. Anak-anak muda yang terpaksa menjalankan keinginan orangtua mereka. Anak-anak muda yang tidak berani mengungkapkan perasaan mereka. Anak-anak muda yang tidak bisa mengejar lentera jiwa mereka. Anak-anak muda yang terjebak dalam ketidakbahagiaan.



Categories: Mutiara

Pergi ke Kawah Putih (Ciwidey)

June 1, 2009 1 comment

Minggu kemaren (31 Mei 2009) penulis beserta kakak tingkat waktu kuliah dulu pergi ke kawah putih (ciwidey). Berangkat pukul 08.00 sampai di lokasi jam 10. Naik sepeda motor,pemandangan di  jalanan yang dilalui asyik cuman ada hal yang membuat tidak nyaman jalan disana rusak berat, penuh lubang. Apalagi jalan yang mau masuk ke lokasi..selama dalam perjalanan ke sana, serasa Dejavu “seperti saat ke malang kalo lewat pujon dan batu”..tiba ditempat lokasi cukup bayar tiket masuk 10rb/orang dan parkir kendaraan 2rb rupiah. Dari pintu masuk sampai ke lokasi kawah putihnya lumayan jauh dan jalan menanjak berliku ditambah lagi jalan yang dilalui sudah banyak yang rusak. Medan yang cukup berat..selama penajakan kejadian beberapa kali motor tidak kuat naik padahal kita menggunakan motor supra 125. Tak hanya kita yang mengalami hal tersebut, banyak pula wisatawan yang lain mengalami hal yang sama..jadi akhirnya dorong dan dorong (lumayan uey..)..selama dalam perjalanan ada juga seorang pasangan muda-mudi yang jalan kaki berdua, menaiki bukit menuju kawah putih (hhhmmmm…hhhmmmm…)..untuk bisa naik lokasi, di pintu masuk disediakan mobil pengangkut. Mobil ini disediakan untuk wisatawan yang tidak menggunakan mobil pribadi ato motor..untuk tiketnya penulis tidak tau(belum tanya..)..selama dalam pennajakan hawa dingin mulai terasa..tiba di lokasi, kita parkir motor sebentar dan langsung menuju ke tempat kawah putih..ooh ya di lokasi parkir motor banyak penjual jagung bakar, jagung rebus dan strawbery yang dikasih coklat (mmmhhmm…mmmhmmh..)..tiba dilokasi, kesan pertama tercium bau belerang (sulfur)..semakin mendekat, bau sulfur semakin menyengat..31052009(006_1)                                                      Pemandangan di ciwidey

di tempat lokasi terdapat gua yang dibangun oleh Belanda pada jawam dulu, kata penduduk setempat gua tersebut panjangnya 12KM tembus ke Cibodas..pemabangunan gua tersebut digunakan untuk industri belarang pada jaman belanda dulu, dan sekarang sudah ndak ada lagi..

31052009(009)Gua di lokasi Ciwidey

Di depan goa bertuliskan “Bebahaya jangan terlalu lama di depan goa”, menurut penulis hal ini disebabkan karena kandungan sulfur/belerang terlalu tinggi sehingga kalo kita lama-lama menghirup udara yang terkontaminasi dengan sulfur terlalu tinggi akan berbahaya bagi kesehatan kita..Selama satu jam penulis berada di lokasi, nafas terasa sesak karena terlalu banyak menghirup sulfur..sebenarnya untuk berada ke lokasi harus menggunakan masker sebagai pelindung kita waktu menghirup udara..Selama satu jam disana kita foto-foto, ngobrol kanan-kiri terus cabut pulang..31052009(003)

Foto orang narsis..

Keluar dari lokasi, nafas terasa segar kembali,,kita makan jagung rebus dulu sebelum balik ke rumah..Nah itulah sekelumit kisah ke Ciwidey..Terasa pegal di jalan heee…hee….

 

Categories: Mutiara

Renungan Hati

seiring dengan berjalannya waktu
semakin banyak yang telah ku lalui
dikala tangis dan tawa yang datang silih berganti
kutegarkan hatiku tuk hadapi semua itu

dikala umur semakin pendek
tak tahu kapan aku menghadap NYA
apakah aku bisa kembali pada NYA
seperti waktu aku datang ke dunia ini?

hidup ini
apakah sebenarnya hidup itu?
hanya hati kita yang tahu
kemana arahnya, kemana tujuannya, kemana kita harus melangkah
sekali lagi hanya hati kita yang tahu

hidup di dunia hanya sekali
tak ada kesempatan yang datang tuk yang kedua kalinya
dikala kita sudah merasa tak sanggup
apakah kita menyerah begitu saja?
seolah olah kita terjepit di dua dinding yang sukar diterjang
dalam keadaan begini kemana kita harus melangkah?
sekali lagi hanya hati kita yang tahu

satu hal yang perlu kita garis bawahi
bahwa hati kita adalah kunci dari segala-galanya
kenyakinan dalam hati akan menglahkan semua keraguan kita
keputusasaan akan menjadi semangat yang kuat
kegagalan akan menjadi keberhasilan yang amat menyenangkan

itu semua akan menjadikan hidup ini indah

Categories: Mutiara

Pelajaran dari Short Circuit Hardisk

February 17, 2009 5 comments

Kemaren terjadi suatu kejadian yang akan menghilangkan data yang tersimpan di hard disk teman. Penyebab kejadian tersebut adalah pemasangan catu yang terbalik, padahal kita tau bahwa pemasangan catu daya hard disk tidak mungkin terbalik karena sudah ada socket yang anti terbalik, tapi ndak tau mengapa kok bisa terbalik ya pemasangannya …. :( . Ini sebuah pelajaran bagi kita semua bahwa perlu memastikan apapun itu dengan benar meskipun hal itu sudah dijamin kebenarannya, kita mesi cek dan re-cek karena apa, karena kita adalah makhluk yang sering lupa.. kejadiannya adalah setelah power dicolokkan keluarlah asap dari hard disk tersebut, dengan secepat kilat kabel power langsung di lepas..

Pemilik hard disk sudah panik karena sudah tebayang sumua data-data yang penting akan hilang, bukan masalah hard disknya yang dipersoalkan tapi data-data itu yang penting apalagi itu data-data kerja..Hal pertama yang dilakukan adalah mencari hard disk yang hampir sama dalam artian board kontrolernya sama, setelah dilakukan replacement ternyata masih tetap sama,,dari sini kondisi makin parah, hard disk sudah tidak bisa diselamatkan lagi..

hard-diskBagian merah Letak Kerusakan komponen

Udah bingung sekali, stress, dan macem-macem..tapi setelah diteliti ulang kita mencoba mengganti komponen yang diblok merah pada gambar diatas dengan yang masih baik (replacement dari board yang ada :) ) dan akhirnya dicoba lagi…Akhirnya bisa teman…Heee….. Data-datanya ndak jadi hilang…Alhamdulillah…sebuah pelajaran Dalam kondisi panik apapun juga kita mesti dan harus tetap berfikir tenang dan jernih.. :)

Categories: Mutiara

Apakah Sabar ada batasnya?

February 13, 2009 4 comments

Pagi-pagi begini sudah menulis tentang sebuah persoalan yang amat berat, Apa yang diulas disini merupakan pemikiran penulis dan penulis bukan ahlinya dalam bidang ini, penulis hanya ingin meyampaikan apa yang penulis pahami tanpa bermaksud apa-apa.

Sabar adalah tindakan dan perilaku yang amat sangat berat bagi kita. Dalam kehidupan sekarang ini banyak diantara kita yang disebabkan oleh faktor apapun itu yang menekan kehidupan kita (ekonomi, sosial, pekerjaan, dll) membuat kita menjadi sering marah tanpa suatu dasar yang jelas. Merasa tersinggung sedikit kita langsung marah tanpa terkendali. Padalah dengan marah kita tidak akan dapat menyelesaikan persoalan yang sedang kita hadapi malah akan memperumit keadaan. Ada juga dari kita karena dikejar deadline pekerjaan kita jadi cepat marah walaupun hanya tersinggung masalah sepele. Kita menumpahkan kekesalan kita pada orang yang menyinggung tadi, apalagi orang tersebut dalam tempat kita bekerja posisinya (mohon maaf) berada dibawah kita.

Dalam Agama yang penulis yakini kita dianjurkan dan diharuskan untuk bersabar dalam kondisi apapun, karena dengan sabar kita sama sekali ndak akan rugi, kita akan memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat. Kalau kita hubungkan dengan ilustrasi pada paragraf pertama, suatu pertanyaan muncul apakah sabar ada batasnya?..dengan adanya pertanyaan ini mengindikasikan bahwa jika batasan itu telah terlampaui, maka kita diperbolehkan marah dan lain-lain tentunya..dari sini timbul lagi pertanyaan, apakah ya seperti itu?..Teman, penulis banyak mendengar bahwa sabar itu ada batasnya? dari sini penulis mulai berfikir, apa benar seperti itu?perlu kita kaji ulang informasi diatas?..disini penulis bertanya pada diri sendiri, Batasan? kalo ada kata batasan, berarti ada yang membuat batasan tersebut? kalau ada yang membuat batasan itu, lalu siapa yang membuat batasan tersebut?..banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang muncul dalam benak penulis..

Dari ilustarasi diatas, penulis kembalikan ke diri penulis sendiri, sebenarnya mengapa menjadi marah? apa yang mendasari itu?..Nah teman, ketika pertama kali kita marah, sikap sabar tersebut juga hilang dalam diri kita..dari sini penulis bisa menarik sebuah benang merah yaitu ketika kita mulai marah, sabar dengan sendirinya akan hilang dalam diri kita..Nah disitulah batas kesabaran kita..Kemampuan diri kita dalam mengendalikan emosi itulah yang akan menjadi batas kesabaran kita. Semakin kita bisa mengendalikan emosi kita, maka kita akan menjadi orang yang bersabar. Kesimpulan yang dapat penulis ambil adalah Sabar tidak ada batasnya. Sebenarnya diri kitalah yang membuat batasan tersebut. Batasan tersebut adalah kemampuan diri kita dalam mengendalikan emosi..

Itulah gambaran dan pemahaman penulis tentang batasan kesabaran, sekali lagi penulis bukan ahlinya dalam pembahasan ini, apabila ada kata-kata yang kurang benar kritik dan saran sangat penulis harapkan..

Jabat Erat

Dayat Kurniawan

Categories: Mutiara
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.